Pernahkah kamu jatuh cinta? Beginikah rasanya? Sesakit ini? Oh, Ya
Tuhan, mengapa jatuh cinta begitu menyakitkan? Akankah selamanya tetap
seperti ini? Ah, aku berharap, aku takkan jatuh cinta lagi, tapi mana
bisa? Manusia hanya berusaha, namun takdir berasal dari Tuhan.
Angin pagi membelai rambutku manja. Aku enggan untuk beranjak dari
tempat duduk ku di depan kelas. “Zahra!” Panggil seseorang yang tak
asing lagi bagiku. “Iya, Ta. Ada apa?” Tanyaku pada Talita, sahabatku
sejak kelas 7. Sekarang aku kelas 9, sebentar lagi Ujian Nasional. Huh,
pusing. “Kamu ngapain di sini? Udah mau masuk tuh.” “Gak papa. Pengen
duduk aja, sebelum menyantap pelajaran yang sangat sangat membosankan.
Hahaha” Kami tertawa bersama. Ya, memang aku sangat bosan dengan mata
pelajaran nanti, PKn. Tak usah tanya mengapa, karena aku tidak suka
dengan gurunya, beliau kalau sedang mengajar seperti mendongengkan
seorang anak kecil yang ingin tidur.
Saat pelajaran aku sering mengantuk dan tak paham apapun. Tiba-tiba
bel tanda masuk sudah berbunyi. Aku dan Talita segera masuk dan duduk di
bangku bersebelahan. Teman-temanku ada yang masih berada di luar kelas.
Masih menunggu guru datang. Beberapa menit kemudian, ada guru piket di
datang, memberikan tugas kepada kami. Satu kelas berucap syukur. Kami
segera mengerjakan tugas yang diberikan tadi. Aku pun mengerjakan dengan
cepat.
Di tengah aku mengerjakan tugas, tiba-tiba temanku banyak yang
membahas kalau Zayn, orang yang aku suka, suka sama Fira. Hatiku terasa
sakit, hancur berkeping-keping. Sia-sia sudah penantianku. Lama-lama
telingaku rasanya terbakar, panas sekali. Aku segera membawa buku dan
alat tulisku dan menuju perpustakaan. Disana aku bisa menenangkan
pikiran dahulu. Saat aku membaca soal, pikiranku entah pergi kemana. Aku
tak bisa memahaminya dengan baik. Tak terasa air mataku jatuh dengan
sendirinya. Entah mengapa hatiku sakit saat mendengar kata-kata
tersebut. Ya Tuhan, mengapa cinta itu sangat menyakitkan. Aku masih diam
tak bergerak. Hanya air mataku tak bisa berhenti mengalir. Tak ada satu
pun yang tahu kalau aku mencintai Zayn. Aku hanya mencintainya dalam
diam.
Saat aku sudah mulai tenang, aku berjalan menuju kamar mandi untuk
membasuh muka dan kembali ke perpustakaan untuk mengambil buku dan alat
tulis ku. Aku segera kembali ke kelas, karena sekarang menjelang jam ke
tiga. Saat di dalam kelas, Talita sedikit curiga dengan raut mukaku.
Hidungku sedikit merah. Aku berusaha menutupinya. Aku sangat tidak
konsentrasi di dalam kelas. Aku hanya melamun membayangkan hal yang
sangat mustahil terjadi. Tak terasa, bel pulang sekolah sudah berbunyi.
Aku sudah terbiasa pulang paling akhir. Aku tak mau tergesa-gesa sampai
rumah. Palingan rumahku sama saja kalau aku pulang cepat. Tapi, hari ini
ada yang berbeda. Zayn masih berada di dalam kelas. Di kelas hanya kami
berdua. Aku segera menghindar dari Zayn. Saat aku hendak melangkah,
Zayn memegang pergelangan tanganku. Aku sekuat tenaga menjauh darinya.
“Zahra, kamu kenapa? Kok menjauh dariku?” Tanyanya. Aku hanya bisa diam,
berdiri memunggunginya. Air mataku kembali menetes. Aku hanya
menggeleng pelan. Aku segera menutup mulut dan berjalan meninggalkannya.
Tangannya bergerak secepat kilat, mendekapku dari belakang. “Aku tahu
kalau kamu menangis. Kamu kenapa menangis? Please, jawab aku!” Aku hanya
diam masih menangis. Serasa air mataku tak mau berhenti. “Sebenarnya…”
mulutku bergetar. Tak bisa mengatakan apapun. “Please, jujur sama aku!”
Pintanya. Aku mencoba memegang tangan Zayn yang masih memelukku dari
belakang. “Aku cinta sama kamu. Tapi apa daya, kalau kamu mencintai
orang lain. Aku tau aku tak sesempurna dia yang kau cintai. Aku pun tak
sepenuhnya berharap untuk memiliki mu. Melihatmu tersenyum saja, aku
sudah senang, walau senyum itu bukan untukku. Aku pun tahu diri, kalau
aku memang tak pantas untukmu. Aku juga tahu, kalau kau takkan pernah
memilih ku. Aku hanya ingin kau menganggapku ada. Kalaupun kau
memilihnya, aku pun tak keberatan. Walau harus menahan rasa sakit ini.”
Air mataku tak henti-hentinya mengalir. “Stop!!!” Zayn membalikkan
badanku. Aku hanya tertunduk. “Kau tak usah membawa orang lain. Aku
hanya ingin kau menjadi kekasihku. Aku tak memandang mu dari fisik, tapi
dari hatimu. Sebenarnya aku hanya mencintaimu. Tentang Fira itu,
teman-teman hanya salah faham. Namamu kan Zahra Safira. Nah, aku
menyebut namamu Fira, teman-teman salah faham. Sekarang, berhentilah
menangis. Aku tak suka melihat perempuan menangis.” Zayn tersenyum manis
sambil mengusap air mataku. Jantungku berdegup kencang. Aku mulai
tersenyum. “Mulai sekarang, kamu adalah ratu hatiku.” Tiba-tiba dia
memelukku erat. Aku merasakan detakan jantungnya sama denganku. Aku
merasa nyaman berada di pelukanmu. “I love you, Zahra.” “Love you too”
jawabku.
Dia melepaskan pelukannya dan mengecup keningku dan berkata, “Aku tak
akan meninggalkanmu, aku akan selalu berada di sisimu. Aku tak akan
pernah membuatmu menangis lagi. Maafkan aku!” Aku hanya membalas dengan
anggukan dan tersenyum manis. “Ayo pulang, aku antar deh!” “Oke” jawabku
singkat.
sumber:
http://cerpenmu.com/cerpen-cinta/inikah-takdir-tuhan-2.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar