Kamis, 16 Juni 2016

Inikah takdir tuhan

Pernahkah kamu jatuh cinta? Beginikah rasanya? Sesakit ini? Oh, Ya Tuhan, mengapa jatuh cinta begitu menyakitkan? Akankah selamanya tetap seperti ini? Ah, aku berharap, aku takkan jatuh cinta lagi, tapi mana bisa? Manusia hanya berusaha, namun takdir berasal dari Tuhan.
Angin pagi membelai rambutku manja. Aku enggan untuk beranjak dari tempat duduk ku di depan kelas. “Zahra!” Panggil seseorang yang tak asing lagi bagiku. “Iya, Ta. Ada apa?” Tanyaku pada Talita, sahabatku sejak kelas 7. Sekarang aku kelas 9, sebentar lagi Ujian Nasional. Huh, pusing. “Kamu ngapain di sini? Udah mau masuk tuh.” “Gak papa. Pengen duduk aja, sebelum menyantap pelajaran yang sangat sangat membosankan. Hahaha” Kami tertawa bersama. Ya, memang aku sangat bosan dengan mata pelajaran nanti, PKn. Tak usah tanya mengapa, karena aku tidak suka dengan gurunya, beliau kalau sedang mengajar seperti mendongengkan seorang anak kecil yang ingin tidur.
Saat pelajaran aku sering mengantuk dan tak paham apapun. Tiba-tiba bel tanda masuk sudah berbunyi. Aku dan Talita segera masuk dan duduk di bangku bersebelahan. Teman-temanku ada yang masih berada di luar kelas. Masih menunggu guru datang. Beberapa menit kemudian, ada guru piket di datang, memberikan tugas kepada kami. Satu kelas berucap syukur. Kami segera mengerjakan tugas yang diberikan tadi. Aku pun mengerjakan dengan cepat.
Di tengah aku mengerjakan tugas, tiba-tiba temanku banyak yang membahas kalau Zayn, orang yang aku suka, suka sama Fira. Hatiku terasa sakit, hancur berkeping-keping. Sia-sia sudah penantianku. Lama-lama telingaku rasanya terbakar, panas sekali. Aku segera membawa buku dan alat tulisku dan menuju perpustakaan. Disana aku bisa menenangkan pikiran dahulu. Saat aku membaca soal, pikiranku entah pergi kemana. Aku tak bisa memahaminya dengan baik. Tak terasa air mataku jatuh dengan sendirinya. Entah mengapa hatiku sakit saat mendengar kata-kata tersebut. Ya Tuhan, mengapa cinta itu sangat menyakitkan. Aku masih diam tak bergerak. Hanya air mataku tak bisa berhenti mengalir. Tak ada satu pun yang tahu kalau aku mencintai Zayn. Aku hanya mencintainya dalam diam.
Saat aku sudah mulai tenang, aku berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh muka dan kembali ke perpustakaan untuk mengambil buku dan alat tulis ku. Aku segera kembali ke kelas, karena sekarang menjelang jam ke tiga. Saat di dalam kelas, Talita sedikit curiga dengan raut mukaku. Hidungku sedikit merah. Aku berusaha menutupinya. Aku sangat tidak konsentrasi di dalam kelas. Aku hanya melamun membayangkan hal yang sangat mustahil terjadi. Tak terasa, bel pulang sekolah sudah berbunyi. Aku sudah terbiasa pulang paling akhir. Aku tak mau tergesa-gesa sampai rumah. Palingan rumahku sama saja kalau aku pulang cepat. Tapi, hari ini ada yang berbeda. Zayn masih berada di dalam kelas. Di kelas hanya kami berdua. Aku segera menghindar dari Zayn. Saat aku hendak melangkah, Zayn memegang pergelangan tanganku. Aku sekuat tenaga menjauh darinya. “Zahra, kamu kenapa? Kok menjauh dariku?” Tanyanya. Aku hanya bisa diam, berdiri memunggunginya. Air mataku kembali menetes. Aku hanya menggeleng pelan. Aku segera menutup mulut dan berjalan meninggalkannya. Tangannya bergerak secepat kilat, mendekapku dari belakang. “Aku tahu kalau kamu menangis. Kamu kenapa menangis? Please, jawab aku!” Aku hanya diam masih menangis. Serasa air mataku tak mau berhenti. “Sebenarnya…” mulutku bergetar. Tak bisa mengatakan apapun. “Please, jujur sama aku!” Pintanya. Aku mencoba memegang tangan Zayn yang masih memelukku dari belakang. “Aku cinta sama kamu. Tapi apa daya, kalau kamu mencintai orang lain. Aku tau aku tak sesempurna dia yang kau cintai. Aku pun tak sepenuhnya berharap untuk memiliki mu. Melihatmu tersenyum saja, aku sudah senang, walau senyum itu bukan untukku. Aku pun tahu diri, kalau aku memang tak pantas untukmu. Aku juga tahu, kalau kau takkan pernah memilih ku. Aku hanya ingin kau menganggapku ada. Kalaupun kau memilihnya, aku pun tak keberatan. Walau harus menahan rasa sakit ini.” Air mataku tak henti-hentinya mengalir. “Stop!!!” Zayn membalikkan badanku. Aku hanya tertunduk. “Kau tak usah membawa orang lain. Aku hanya ingin kau menjadi kekasihku. Aku tak memandang mu dari fisik, tapi dari hatimu. Sebenarnya aku hanya mencintaimu. Tentang Fira itu, teman-teman hanya salah faham. Namamu kan Zahra Safira. Nah, aku menyebut namamu Fira, teman-teman salah faham. Sekarang, berhentilah menangis. Aku tak suka melihat perempuan menangis.” Zayn tersenyum manis sambil mengusap air mataku. Jantungku berdegup kencang. Aku mulai tersenyum. “Mulai sekarang, kamu adalah ratu hatiku.” Tiba-tiba dia memelukku erat. Aku merasakan detakan jantungnya sama denganku. Aku merasa nyaman berada di pelukanmu. “I love you, Zahra.” “Love you too” jawabku.
Dia melepaskan pelukannya dan mengecup keningku dan berkata, “Aku tak akan meninggalkanmu, aku akan selalu berada di sisimu. Aku tak akan pernah membuatmu menangis lagi. Maafkan aku!” Aku hanya membalas dengan anggukan dan tersenyum manis. “Ayo pulang, aku antar deh!” “Oke” jawabku singkat.

sumber:
 http://cerpenmu.com/cerpen-cinta/inikah-takdir-tuhan-2.html